Sepasang kakek nenek yang miskin tinggal di gubuk reyot di tepi desa. Meskipun hidup berkekurangan, mereka selalu ringan tangan terhadap siapa saja yang membutuhkan pertolongan.
Suatu sore, hujan turun sangat deras. Nenek tua merasa
was-was, takut gubuknya roboh diterjang angin. Tapi, si Kakek selalu
menghiburnya.
Tok! Tok! Tok!
Kakek membukakan pintu. Di depannya berdiri seorang
pendeta yang menggigil kedinginan. Pendeta itu sedang melakukan perjalanan
menuju kuil suci di seberang gunung. Ia mencari tempat untuk berteduh.
Kakek mempersilakan Pendeta untuk masuk dan mengajaknya
duduk di dekat perapian agar tubuhnya hangat. Sementara Nenek menjerang air
untuk menyeduh teh dan menghidangkan bubur beras.
Walaupun hanya itu yang bisa dilakukan Kakek dan Nenek,
Pendeta merasa senang. Kakek dan Nenek melayaninya dengan baik dan tulus hati.
Ketika hujan sudah reda, sang Pendeta berpamitan.
"Kakek, Nenek, kalian telah menerimaku dengan baik. Sebagai ucapan terima
kasih, ambillah mangkuk kecil ini. mangkuk ini bisa memberikan apa saja yang
kalian minta. Namun ingatlah! Mangkuk ini hanya bisa mengabulkan tiga kali
permintaan dalam sehari. Mudah-mudahan hidup kalian menjadi lebih baik
lagi."
"Hai, mangkuk kecil. Berilah kami makanan karena
kami selalu kesulitan mendapatkan makanan," pinta Kakek. Tiba-tiba mangkuk
itu telah dipenuhi nasi dan lauknya. Kakek dan Nenek segera menyantapnya. Mereka
tidak minta apa-apa lagi. Makanan semangkuk kecil itu sudah cukup bagi mereka
berdua.
Kakek dan Nenek tidak pernah meminta uang atau barang
berharga kepada mangkuk itu. Mereka hanya minta makanan, sehari tiga kali.
Mereka bersyukur karena bisa makan cukup. Mereka tetap hidup seperti biasanya.
Tapi sayang, Nan Tien, tetangga yang jahat, mengetahui keajaiban mangkuk itu.
Nan Tien meminta mangkuk itu dengan paksa. Meski Nenek
mempertahankannya, ia kalah kuat dengan tangan Nan Tien yang sudah merebut
mangkuk itu. Kakek dan Nenek pun melepaskan mangkuk itu.
"Tapi, mangkuk itu pemberian Pendeta bagi kita, Kek.
Aku takut jika Nan Tien berbuat sesuatu yang jahat dengan mangkuk itu. Dia
sangat serakah dan tamak," Nenek terisak-isak.
"Sudahlah, Nek. Kita berdoa saja, semoga mangkuk itu
segera dikembalikan kepada kita."
Dugaan Nenek benar juga. Nan Tien ingin memuaskan
sifatnya yang serakah.
"Mumpung ada mangkuk
ini, aku akan meminta perhiasan yang mahal-mahal," pikir Nan Tien. Ia pun
meminta perhiasan. Dalam sekejab, mangkuk itu telah dipenuhi perhiasan. Nan
Tien tertawa senang.
"Sekarang aku minta uang emas!" seru Nan Tien.
Mangkuk pun dipenuhi dengan uang emas. Nan Tien bangga sekali. Ia pasti akan
cepat kaya dengan adanya mangkuk ini. Ia memanggil teman-temannya dan
memamerkan perhiasan, uang emas, serta mangkuk itu kepada mereka. Teman-teman
Nan Tien terheran-heran tidak percaya.
"Kalau memang mangkuk itu bisa mengabulkan apa pun
permintaan kita, suruhlah menyediakan mi ayam bagi kami. Saat ini kami lapar
sekali," kata salah seorang temannya. Ia membayangkan betapa enaknya makan
mi ayam panas di hari yang mendung ini.
Nan Tien meminta mi ayam. Tapi hanya semangkuk mi ayam yang tersedia. Tidak cukup bagi semua temannya. Nan Tien meminta lagi tetapi mangkuk itu tidak mengeluarkan apa pun. Nan Tien menjadi marah. Ia tidak tahu kalau mangkuk itu hanya bisa mengabulkan tiga permintaan dalam sehari. Dan mangkuk itu telah memenuhi tiga permintaan Nan Tien.
"Hei, mangkuk jelek! Cepat berikan kami mi ayam
dengan kuah panas sebanyak-banyaknya!" seru Nan Tien sambil mengumpati
mangkuk itu.
Tiba-tiba, mangkuk itu bergetar dan mengeluarkan mi ayam
panas sebanyak-banyaknya sampai meluap ke atas meja. Semakin lama semakin
banyak dan memenuhi lantai rumah Nan Tien. Teman-teman Nan Tien berlarian
meninggalkan rumah itu.
Nan Tien berteriak-teriak menyuruh mangkuk itu supaya
berhenti, namun sia-sia. Mangkuk itu tetap mengeluarkan mi ayam panas sampai
memenuhi rumah Nan Tien. Genangan mi ayam semakin lama semakin tinggi dan
menutupi tubuh Nan Tien. Akhirnya Nan Tien terkubur oleh mi ayam panas dan mati
akibat keserakahannya.
Esok harinya, Nenek berseru gembira karena mendapati
mangkuk pemberian Pendeta ada di atas meja makannya. Seperti biasanya, Kakek
dan Nenek hanya meminta makanan tiga kali dalam sehari. Walaupun seluruh
penduduk desa telah mengetahui keajaiban mangkuk itu, tak seorang pun yang
berani mengambilnya. Mereka takut kejadian yang dialami Nan Tien akan terulang
kembali. ***
* Cerita ini pernah dimuat di Majalah Mentari nomor 169, tahun 2003.
* Cerita ini pernah dimuat di Majalah Mentari nomor 169, tahun 2003.
3 komentar
Ceritanya bagus dan menarik.
Makasih. Semoga bermanfaat.
EmoticonEmoticon